Select Country
Search Icon
ARCHIFYNOW > HIGHLIGHTS > Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

BY
©Shutterstock

Banjir merupakan fenomena alam yang paling sering terjadi di Indonesia, terutama di kota-kota besar dan wilayah pesisir. Tiap tahun, permasalahan banjir datang dalam frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada 23 Mei 2022, bencana banjir rob melanda sejumlah wilayah di pesisir utara Jawa, di antaranya Semarang, Demak, Pati, Jepara, Pekalongan, dan sekitarnya. Tinggi muka air mencapai 25-100 sentimeter dan berdampak pada permukiman penduduk hingga 10 ribu jiwa. Bahkan, wilayah yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa mencatat ketinggian banjir rob hingga lebih dari 1 meter.

Kondisi alam seperti hujan terlalu deras dan air laut pasang terlalu tinggi disalahkan sebagai penyebab terjadinya banjir. Tanggul jebol akibat kekuatan air yang besar membuat air meluap dan mengalir makin cepat. Kondisi yang dilihat sebagai penyebab banjir ini menutupi alasan dasar bencana banjir terjadi. Cara pandang yang salah terhadap peristiwa banjir membuat langkah mengatasi banjir yang diambil keliru pula. Perencanaan kota yang tidak tanggap air menambah daftar panjang kesalahan penanganan banjir.

Bersama Yu Sing, arsitek utama dari Studio Akanoma yang giat menggerakkan kesadaran lingkungan, #ArcbyArchify bertajuk Kota Kita Nanti Sensitif Terhadap Air mengajak kita membangun kembali pemahaman dasar akan penyebab utama banjir sehingga langkah tepat mengatasi banjir dengan efektif pun dapat mulai dijalankan.

Akar permasalahan bencana banjir

Di balik cuaca ekstrem dan tanggul jebol yang dianggap sebagai penyebab banjir, akar permasalahan bencana banjir belum dipahami sepenuhnya. Yang paling tak disadari, pemenuhan kebutuhan air bersih dan perencanaan kota memiliki peran besar terhadap terjadinya bencana banjir.

Pertumbuhan jumlah penduduk kota yang meningkat pesat membuat kebutuhan air bersih meningkat pula. Pemenuhan kebutuhan air bersih ini dilakukan dengan mengambil air tanah secara masif. Hal ini menyebabkan ketinggian permukaan tanah menurun pesat hingga 10 cm per tahun. Jika penurunan terjadi terus-menerus, permukaan air tanah akan berada di bawah permukaan air laut. Banjir pun tak terhindarkan.

Tak hanya itu, perencanaan dan pembangunan kota terus berjalan dengan fokus utama memenuhi kebutuhan dan perekonomian manusia tanpa memperhatikan faktor lingkungan. Ketersediaan ruang terbuka hijau dilupakan sehingga upaya menambah persentase ketersediaan ruang terbuka pun makin sulit dilakukan, bahkan dalam jangka waktu puluhan tahun.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

©Shutterstock

Banjir tak mesti menjadi bencana alam

Intensitas curah hujan dan air laut pasang yang tinggi akibat cuaca ekstrem dapat terjadi kapan saja. Peristiwa banjir hampir tidak dapat dihindari. Air perlu dianggap sebagai bagian alami dari lingkungan kota agar banjir tidak menjadi sebuah bencana alam bagi suatu wilayah.

Akan tetapi, yang terjadi saat ini adalah pendekatan terhadap air dan banjir mengarah ke bagaimana agar air tidak masuk ke dalam kota. Sungai yang tadinya memiliki area sempadan alami, kini ditanggul dengan struktur yang keras demi membuat jalan atau tambahan area permukiman penduduk.

Dengan struktur keras seperti beton, saat cuaca ekstrem berlangsung, usaha yang dapat dilakukan adalah mengirimkan luapan air berlebih ke laut karena penyerapan air ke dalam tanah tidak dapat berlangsung. Tidak adanya wilayah resapan air dalam kota akan membuat sungai meluap dan menggenangi permukiman penduduk. Bencana banjir pun terjadi.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

©Shutterstock

Tanggul dan penimbunan jalan bukan solusi

Selama ini, banjir ditangani dengan pembuatan tanggul keras. Tanah yang turun atau amblas akibat pengambilan air tanah berlebih pun telah dicoba penanganannya dengan menimbun atau meninggikan jalan dengan tanah galian yang bahkan sebagian diambil secara ilegal. Langkah-langkah tersebut merupakan solusi sementara yang tidak efektif. Mengambil tanah galian dari wilayah lain justru akan menambah wilayah banjir, sementara akar permasalahan banjir tidak tertangani.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

©Shutterstock

Kota kita nanti sensitif air

Lantas, bagaimana semestinya kita memandang air sehingga bencana banjir tidak lagi terjadi? Konsep kota sensitif air muncul menjawab pertanyaan ini.

Istilah kota sensitif air muncul di antara arsitek dan perencana kota sebagai jawaban permasalahan banjir. Dasar dari kota sensitif air adalah kesadaran bahwa air merupakan salah satu elemen lingkungan yang harus direspon dan didesain dalam perencanaan kota, bukan dilawan.

Perencanaan kota sensitif air meliputi bagaimana mengelola air, menyediakan air bersih dengan tepat untuk kebutuhan masyarakat, serta menanggulangi kondisi musim dan cuaca yang berbeda-beda. Ketika hujan besar dan air berlimpah, pergerakan air dalam kota telah dirancang agar tidak berdampak menjadi bencana bagi penduduk.

Konsep kota sensitif air hadir sebagai bagian dari proses adaptasi manusia terhadap kondisi alam sehingga peristiwa alami seperti hujan dan air laut pasang tak lagi disalahkan. Pandangan ini akan menjadi dasar langkah nyata untuk menangani banjir dengan tepat.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

©Shutterstock

Menambah ruang terbuka skala kecil

Saat merespon banjir, daerah resapan air dalam kota diperlukan. Karenanya, upaya membuat ataupun menambah daerah resapan air ini dapat dilakukan dengan menyediakan ruang terbuka. Hunian dan bangunan gedung dapat dibuat dengan model bangunan panggung dengan ketinggian setidaknya 1 meter dari jalan utama sehingga tercipta ruang di bawah rumah untuk menampung dan meresapkan air.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

©STUDIO AKANOMA

Menyediakan ruang terbuka skala besar

Upaya menambah ruang terbuka skala kota perlu digalakkan, salah satunya dengan membuat taman berkonsep eco atau ramah lingkungan. Konsep taman eco membuat ketinggian tanah di taman lebih rendah dari jalan atau area perkerasan. Taman ini akan bertindak sebagai ruang publik dalam kondisi normal dan menjadi tempat penampungan air saat hujan lebat. Tebet Eco Park menjadi contoh terbaru dari konsep taman eco yang disiapkan untuk menampung banjir Jakarta.

Taman dengan konsep eco ini perlu dirancang dengan tepat di wilayah-wilayah yang sering dilanda banjir. Selain menyiapkan tempat menampung air agar tidak mengalir ke permukiman penduduk, adanya taman eco menjadi upaya mengembalikan air tanah untuk menghentikan laju cepat penurunan ketinggian tanah kota. Dengan demikian, penurunan tanah sebagai salah satu akar permasalahan bencana banjir dapat dihentikan.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

Tebet Eco Park via FuturArc


Bio-solution untuk sungai kota

Upaya membuat tanggul alami sebuah sungai diperlukan untuk menggantikan struktur keras berupa tanggul beton yang selama ini digunakan di sungai kota. Struktur keras justru membuat energi besar dari aliran air deras tidak tertahan dan lebih cepat mengalir. Hal ini menjadi penyebab tanggul dari beton akan selalu amblas dan jebol seiring berjalannya waktu.

Bio-solution untuk sungai kota dapat berupa karung-karung berisi tanah sebagai penahan erosi dan goncangan dari arus air yang kencang. Dengan menggunakan solusi alami pengganti struktur beton ini, air bisa meresap ke dalam karung dan tumbuhan air serta ikan di sungai tetap dapat hidup. Tinggalkan tanggul-tanggul beton yang melawan air dan gunakan bio-solution untuk mengatasi bencana banjir.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

©Shutterstock

Reforestasi mangrove di kota pesisir

Kota-kota pesisir, baik yang saat ini posisi tanahnya sudah lebih tinggi dari air laut maupun yang masih di bawah air laut, memiliki risiko banjir rob yang sangat tinggi. Pada saat bersamaan, Indonesia kehilangan jutaan hektar hutan mangrove tiap tahunnya.

Padahal, hutan mangrove merupakan benteng alami pertama yang menahan rob. Adanya hutan mangrove menjadi tanggul alami yang menahan serta memperkecil kekuatan gelombang air laut sehingga menurunkan risiko terjadinya tsunami. Karenanya, wilayah pesisir harus segera melakukan restorasi atau reforestasi hutan mangrove.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

©Shutterstock

Penerapan hybrid engineering

Hybrid Engineering merupakan suatu rekayasa ekosistem yang membuat suatu struktur lolos air untuk mengatasi abrasi di wilayah kota pesisir. Sistem ini diterapkan agar bibit mangrove kecil yang baru saja ditanam dapat menahan tekanan air laut.

Bibit mangrove ditanam di belakang dinding sementara dari ranting-ranting kayu sebagai tanggul alami hingga mangrove tumbuh dewasa dan tahan menghadapi air laut yang lebih besar. Penerapan hybrid engineering ini telah dilakukan di beberapa wilayah pesisir utara Jawa, salah satunya Demak. Bersama dengan proses reforestasi mangrove, penerapan hybrid engineering dapat menjadi salah satu solusi menahan banjir rob.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

©Shutterstock

Berkaca dari negara lain

Indonesia bukan negara pertama yang kota-kotanya memiliki masalah banjir akibat penurunan ketinggian permukaan tanah. Kota-kota besar di negara maju berhadapan dengan masalah penurunan tanah yang sama, salah satunya kota Tokyo di Jepang.

Hingga tahun 1960-an, kota Tokyo mencatat penurunan tanah lebih dari 4 meter di bawah permukaan laut. Kemudian, penggunaan air tanah dihentikan. Sumber air bersih dialirkan dari tempat lain yang lebih tinggi. Dalam waktu 15 tahun, penurunan permukaan tanah di Tokyo mendekati angka 0 sentimeter. Air tanah dan lapisan akuifer pada tanah terisi kembali sehingga tanah tak lagi turun dan ambles.

Dengan berkaca dari preseden di kota Tokyo ini, Indonesia tentu dapat mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk menanggulangi banjir. Permukaan tanah tak akan dapat naik kembali seperti semula, tetapi setidaknya upaya-upaya menghentikan penurunan permukaan tanah dilakukan untuk mencegah kondisi banjir yang makin parah.

Kota Sensitif Air, Konsep dan Solusi Nyata Mengatasi Banjir

©Shutterstock 

Peran pemerintah

Bersama dengan masyarakat, pemerintah memegang kunci peran dalam mengatasi banjir. Untuk mewujudkannya, pemerintah memiliki kewajiban mengubah prioritas pembangunan dengan tak lagi hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi makro. Kini, masyarakat ekonomi mikro yang paling sering terdampak bencana banjir perlu menjadi fokus perhatian perencanaan dan pembangunan kota.


Tanpa melihat akar permasalahan banjir dan bagaimana banjir berubah menjadi bencana, upaya-upaya menanggulangi banjir akan terus dilakukan tanpa mengatasi apa pun. Air merupakan bagian dari lingkungan alami yang perlu direspon dan dirancang dengan tepat. Merancang dengan konsep kota sensitif air akan menjadi solusi nyata mengatasi banjir.

Elisse Johanna Tandyo
Contributor
Elisse is a freelance contributor for ArchifyNow, currently based in Jakarta, Indonesia. Graduated with a Bachelor of Engineering in Architecture in 2019, she has worked in various research projects and publications until currently writing for ArchifyNow.
More from archifynow