Terletak di sebuah desa yang tenang di Sleman, Yogyakarta—hanya berjarak singkat dari sebuah universitas swasta setempat—Porous Habitat adalah rumah kos dengan 12 unit yang menawarkan lebih dari sekadar tempat tinggal. Bangunan ini merespons meningkatnya kebutuhan hunian mahasiswa sekaligus merangkul semangat lingkungan sekitarnya.
Menghuni Keterhubungan, Merasakan Desa
Arsitektur bangunan ini mengambil inspirasi dari bentuk familiar limasan, sebuah struktur atap miring tradisional yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar. Referensi vernakular ini kemudian diinterpretasikan ulang menjadi massa bangunan yang sederhana dan kontemporer. Material yang digunakan sengaja dibiarkan mentah dan monolitik—bukan untuk menonjol, melainkan untuk secara tenang menjadi bagian dari lingkungannya.
Istilah “porous” di sini tidak hanya merujuk pada cahaya dan aliran udara, tetapi juga pada keterbukaan terhadap atmosfer dan ritme kehidupan desa di luar kos. Lantai dasar tetap membumi—baik secara fisik maupun sosial—sementara lantai atas membuka diri ke arah langit. Kedua tingkat bangunan tetap “porous” terhadap rasa tempat: ketenangannya, kebersamaannya, serta kehangatan keseharian yang sederhana.
Rasa keterhubungan ini menjadi penting. Yogyakarta adalah kota pelajar, tempat orang-orang dari berbagai penjuru nusantara datang untuk belajar dan bertumbuh. Dalam konteks ini, keterhubungan berarti lebih dari sekadar interaksi sosial—melainkan tentang merasa diterima sekaligus tetap menghormati, karena seseorang adalah sekaligus tamu dan tetangga. Kesadaran ini menumbuhkan kepercayaan diri yang tenang, serta optimisme yang damai dalam perjalanan belajar dan hidup jauh dari rumah.
Ruang komunal di lantai dasar meniru tata letak desa pedesaan. Area parkir menggunakan grass paver plastik, memungkinkan rumput dan kerikil lokal tumbuh di sela-selanya—fungsional, namun tetap hijau. Dapur dan ruang makan bersama dinaungi oleh pepohonan, melembutkan rutinitas harian sekaligus membantu mengurangi stres.
Koridor mendapatkan pencahayaan alami melalui skylight selebar 15 cm yang tersembunyi di dalam plafon gypsum berbentuk cove, menghadirkan pencahayaan yang aman dan nyaman tanpa panas berlebih. Setiap unit memanjang ke arah koridor dengan ruang transisi kecil—dipisahkan hanya oleh untaian tali hujan—tempat sepatu diletakkan, bangku kecil ditempatkan, dan percakapan dimulai. Gestur-gestur kecil ini mendorong interaksi sosial yang kasual, membangun rasa kebersamaan dan keamanan di antara penghuni.
Di dalam unit, kamar berukuran 9–12 m² dilengkapi dua bukaan untuk ventilasi silang, memungkinkan udara segar, cahaya, dan pandangan masuk tanpa mengorbankan privasi. Secara struktural, bangunan menggunakan sistem portal beton tertutup dengan bentang 4,5 meter, yang membantu meminimalkan ukuran balok sekaligus biaya konstruksi. Interval struktur ini juga menciptakan celah sempit antar unit, meningkatkan ventilasi alami dan porositas ruang. Furnitur yang digunakan mendukung kebiasaan lokal, seperti duduk di lantai untuk belajar—sebuah kebiasaan yang akrab, nyaman, dan kontekstual.
Porous Habitat bukan sekadar tempat untuk tinggal.
Ia adalah ruang untuk merasakan—merasakan keterhubungan, penerimaan, dan ketenangan—dalam ritme desa yang lambat namun menyembuhkan.
Terletak di sebuah desa yang tenang di Sleman, Yogyakarta—hanya berjarak singkat dari sebuah universitas swasta setempat—Porous Habitat adalah rumah kos dengan 12 unit yang menawarkan lebih dari sekadar tempat tinggal. Bangunan ini merespons meningkatnya kebutuhan hunian mahasiswa sekaligus merangkul semangat lingkungan sekitarnya.
Menghuni Keterhubungan, Merasakan Desa
Arsitektur bangunan ini mengambil inspirasi dari bentuk familiar limasan, sebuah struktur atap miring tradisional yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar. Referensi vernakular ini kemudian diinterpretasikan ulang menjadi massa bangunan yang sederhana dan kontemporer. Material yang digunakan sengaja dibiarkan mentah dan monolitik—bukan untuk menonjol, melainkan untuk secara tenang menjadi bagian dari lingkungannya.
Istilah “porous” di sini tidak hanya merujuk pada cahaya dan aliran udara, tetapi juga pada keterbukaan terhadap atmosfer dan ritme kehidupan desa di luar kos. Lantai dasar tetap membumi—baik secara fisik maupun sosial—sementara lantai atas membuka diri ke arah langit. Kedua tingkat bangunan tetap “porous” terhadap rasa tempat: ketenangannya, kebersamaannya, serta kehangatan keseharian yang sederhana.
Rasa keterhubungan ini menjadi penting. Yogyakarta adalah kota pelajar, tempat orang-orang dari berbagai penjuru nusantara datang untuk belajar dan bertumbuh. Dalam konteks ini, keterhubungan berarti lebih dari sekadar interaksi sosial—melainkan tentang merasa diterima sekaligus tetap menghormati, karena seseorang adalah sekaligus tamu dan tetangga. Kesadaran ini menumbuhkan kepercayaan diri yang tenang, serta optimisme yang damai dalam perjalanan belajar dan hidup jauh dari rumah.
Ruang komunal di lantai dasar meniru tata letak desa pedesaan. Area parkir menggunakan grass paver plastik, memungkinkan rumput dan kerikil lokal tumbuh di sela-selanya—fungsional, namun tetap hijau. Dapur dan ruang makan bersama dinaungi oleh pepohonan, melembutkan rutinitas harian sekaligus membantu mengurangi stres.
Koridor mendapatkan pencahayaan alami melalui skylight selebar 15 cm yang tersembunyi di dalam plafon gypsum berbentuk cove, menghadirkan pencahayaan yang aman dan nyaman tanpa panas berlebih. Setiap unit memanjang ke arah koridor dengan ruang transisi kecil—dipisahkan hanya oleh untaian tali hujan—tempat sepatu diletakkan, bangku kecil ditempatkan, dan percakapan dimulai. Gestur-gestur kecil ini mendorong interaksi sosial yang kasual, membangun rasa kebersamaan dan keamanan di antara penghuni.
Di dalam unit, kamar berukuran 9–12 m² dilengkapi dua bukaan untuk ventilasi silang, memungkinkan udara segar, cahaya, dan pandangan masuk tanpa mengorbankan privasi. Secara struktural, bangunan menggunakan sistem portal beton tertutup dengan bentang 4,5 meter, yang membantu meminimalkan ukuran balok sekaligus biaya konstruksi. Interval struktur ini juga menciptakan celah sempit antar unit, meningkatkan ventilasi alami dan porositas ruang. Furnitur yang digunakan mendukung kebiasaan lokal, seperti duduk di lantai untuk belajar—sebuah kebiasaan yang akrab, nyaman, dan kontekstual.
Porous Habitat bukan sekadar tempat untuk tinggal.
Ia adalah ruang untuk merasakan—merasakan keterhubungan, penerimaan, dan ketenangan—dalam ritme desa yang lambat namun menyembuhkan.
Terletak di sebuah desa yang tenang di Sleman, Yogyakarta—hanya berjarak singkat dari sebuah universitas swasta setempat—Porous Habitat adalah rumah kos dengan 12 unit yang menawarkan lebih dari sekadar tempat tinggal. Bangunan ini merespons meningkatnya kebutuhan hunian mahasiswa sekaligus merangkul semangat lingkungan sekitarnya.
Menghuni Keterhubungan, Merasakan Desa
Arsitektur bangunan ini mengambil inspirasi dari bentuk familiar limasan, sebuah struktur atap miring tradisional yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar. Referensi vernakular ini kemudian diinterpretasikan ulang menjadi massa bangunan yang sederhana dan kontemporer. Material yang digunakan sengaja dibiarkan mentah dan monolitik—bukan untuk menonjol, melainkan untuk secara tenang menjadi bagian dari lingkungannya.
Istilah “porous” di sini tidak hanya merujuk pada cahaya dan aliran udara, tetapi juga pada keterbukaan terhadap atmosfer dan ritme kehidupan desa di luar kos. Lantai dasar tetap membumi—baik secara fisik maupun sosial—sementara lantai atas membuka diri ke arah langit. Kedua tingkat bangunan tetap “porous” terhadap rasa tempat: ketenangannya, kebersamaannya, serta kehangatan keseharian yang sederhana.
Rasa keterhubungan ini menjadi penting. Yogyakarta adalah kota pelajar, tempat orang-orang dari berbagai penjuru nusantara datang untuk belajar dan bertumbuh. Dalam konteks ini, keterhubungan berarti lebih dari sekadar interaksi sosial—melainkan tentang merasa diterima sekaligus tetap menghormati, karena seseorang adalah sekaligus tamu dan tetangga. Kesadaran ini menumbuhkan kepercayaan diri yang tenang, serta optimisme yang damai dalam perjalanan belajar dan hidup jauh dari rumah.
Ruang komunal di lantai dasar meniru tata letak desa pedesaan. Area parkir menggunakan grass paver plastik, memungkinkan rumput dan kerikil lokal tumbuh di sela-selanya—fungsional, namun tetap hijau. Dapur dan ruang makan bersama dinaungi oleh pepohonan, melembutkan rutinitas harian sekaligus membantu mengurangi stres.
Koridor mendapatkan pencahayaan alami melalui skylight selebar 15 cm yang tersembunyi di dalam plafon gypsum berbentuk cove, menghadirkan pencahayaan yang aman dan nyaman tanpa panas berlebih. Setiap unit memanjang ke arah koridor dengan ruang transisi kecil—dipisahkan hanya oleh untaian tali hujan—tempat sepatu diletakkan, bangku kecil ditempatkan, dan percakapan dimulai. Gestur-gestur kecil ini mendorong interaksi sosial yang kasual, membangun rasa kebersamaan dan keamanan di antara penghuni.
Di dalam unit, kamar berukuran 9–12 m² dilengkapi dua bukaan untuk ventilasi silang, memungkinkan udara segar, cahaya, dan pandangan masuk tanpa mengorbankan privasi. Secara struktural, bangunan menggunakan sistem portal beton tertutup dengan bentang 4,5 meter, yang membantu meminimalkan ukuran balok sekaligus biaya konstruksi. Interval struktur ini juga menciptakan celah sempit antar unit, meningkatkan ventilasi alami dan porositas ruang. Furnitur yang digunakan mendukung kebiasaan lokal, seperti duduk di lantai untuk belajar—sebuah kebiasaan yang akrab, nyaman, dan kontekstual.
Porous Habitat bukan sekadar tempat untuk tinggal.
Ia adalah ruang untuk merasakan—merasakan keterhubungan, penerimaan, dan ketenangan—dalam ritme desa yang lambat namun menyembuhkan.